
Kepergian Abdurrahman Wahid atau Gus Dur membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) membatalkan semua agenda kenegaraannya. SBY memimpin sendiri upacara kenegaraan pemakaman Gus Dur di komplek pemakaman keluarga di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jatim.
Sebelumnya SBY sempat mengunjungi Gus Dur di RSCM karena mendapat laporan dari tim dokter yang merawat Gus Dur bahwa mantan Presiden RI tersebut sedang kritis. Setelah SBY menjenguk Gus Dur, Gus Dur dikabarkan wafat sekitar pukul 18.45 WIB.
Jenazah mantan Presiden RI Abdurrahman Wahid akan disemayamkan di sebelah utara pusara kakeknya yang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) K.H. Hasyim Asy'ari di Pondok Pesantren (PP) Tebuireng, Jombang, Jawa Timur.
"Sebagaimana hasil kesepakatan keluarga, rencananya makam Gus Dur di sebelah utara Mbah Hasyim Asy'ari," kata Pengasuh PP Tebuireng, K.H. Sholahuddin Wahid atau Gus Sholah.
Menurut adik kandung Gus Dur ini, makam kakaknya yang berada di sebelah barat masjid PP Tebuireng itu baru akan digali Kamis pagi usai salat Subuh.
Salahuddin Wahid belum bisa memastikan pukul berapa Gus Dur akan dimakamkan. Namun yang jelas, saat ini PP Tebu Ireng Jombang sedang sibuk mempersiapkan diri. Selain tahlilan, tamu-tamu terus berdatangan. Namun dipastikan, jenazah akan dimakamkan siang ini.
Kepergian Gus Dur ikut membuat duka para pengikutnya. Seorang tokoh puri atau keraton di Bali menyatakan, masyarakat Hindu telah kehilangan seorang tokoh pluralisme.
"Secara pribadi, saya merasa kehilangan seorang guru sejati. Beliau banyak mengajarkan kita bagaimana hidup bertoleransi di tengah perbedaan," kata tokoh Puri Gerenceng-Pemecutan Anak Agung Ngurah Agung dikutip Antara.
Pernyataan senada juga diungkapkan kalangan Kristen. “Bersama Gus Dur, kami yang minoritas merasa nyaman, †kata pendeta Frans Magnis Suseno, rohaniawan Katolik, dalam wawancara di Metro TV.
0 comments:
Post a Comment